Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Tuesday, 28 May 2019

GENERASI INSYAALLAH



"Sampailah kita pada sebuah generasi yang secara kurun waktu disebut generasi milineal, dan secara mental ketepatan waktu, aku sebut Generasi Insyaallah, generasi yang tidak berani berjanji dan sembunyi di balik bahwasanya Tuhanlah yang menentukan! Insyaallah dalam konteks kebudayaan kita, bermakna tidak berani berjanji, ah kau tahu kan maksudku??" kata Emblis bersemangat.

"Auwah kayak kamu tidak begitu saja..."

"Aku juga begitu, kamu juga, kita semua memang begitu, kita kan segenerasi, sejaman, sekencenderungan, tinggal bagaimana kita berani membaca kekurangan diri atau tidak." ujar si Emblis

"Aku jadi ingat kata orang itu," kataku, "namanya aku lupa. Waktu itu aku masih sering tidur di sekretariat UKM kampus. Kebetulan hari itu aku bangun paling pagi di antara penghuni kampus lainnya. Orang itu menyapaku dengan akrab dan kami pun berkenalan. Ia memiliki kemampuan berbicara dengan baik, kualitas bebrayan yang sekarang jarang dimiliki oleh orang-orang segenerasiku.

Sampailah aku pada obrolan bahwa dia dulu sempat ikut perkumpulan anak-anak muda di Yogyakarta yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi, yakni PSK (Persada Studi Klub). Berdasar pengalamannya, anak-anak muda di PSK, di akhir pertemuan akan menentukan hari dimana mereka akan bertemu lagi. Setelah hari janji jumpa ditentukan, saat itulah setiap kepala akan merencanakan diri menuju hari H itu.

Begini katanya, "jadi semisal ini hari senin dan kami bersepakat untuk ketemu lagi hari jumat. Saat keputusan itu jatuh setiap kepala langsung memutar rencana untuk melalui selasa, rabu, kamis, dan kemudian menuju di tempat pertemuan pada hari jumatnya.

Secara fisik kami baru akan berangkat menuju lokasi hari jumat, tetapi secara mental, pikiran, perasaan, kami sudah menuju ke tempat pertemuan sedari kesepakatan itu diputuskan."

"Hampir semuanya seperti itu?"

"Ya semua, tidak hanya di PSK, di perkumpulan lain juga seperti itu di masa tersebut, mungkin karena belum ada hape yang membuat kita lebih percaya diri untuk berani berjanji dan berani membatalkan, bahkan satu jam sebelum waktu pertemuan, kita bisa sms, saya tidak jadi datang."'

"Nah bener kan kesimpulanku?" Emblis bersemangat. "Kita itu terlalu percaya diri karena daya dukung teknologi yang menopang diri di segala lini. Tapi penguasaan diri kita malah keteteran sampai-sampai mengakses mental untuk menepati janji dan komitmen pada apa yang disepakati saja kita tidak lagi sanggup."

"Mungkin begini mblis" Si Embut urun rembug, "pengertian berjumpa masa dahulu dan sekarang itu kan sudah berbeda, sekarang sosial media itu juga sudah dianggap sebagai ruang jumpa."

"Mana bisa pengertian berjumpa berubah, berjumpa itu ya berada di satu ruang dan waktu yang sama. Berjumpa di ruang waktu yang tak sama itu, bahasa puisi. Beberapa hal memang bisa berubah tetapi ada wilayah yang tak berubah, yakni hal-hal yang esensial." Emblis membantah.

"Ah kamu terlalu kolot."

"Lhoh nyatanya senggama dari zaman dahulu sampai sekarang masih harus di kasur yang sama, kalau tidak ya onani namanya." ucap Emblis sembari membetot pangkal selakangannya.

"Yasudah kamu tulis soal ini ya mblis, besok jadi lalu kita diskusikan, besok jadi bisa tidak?" tanyaku

"Insyaallah." jawab Emblis.

Catatan Gumam, 28 Mei 2019
Idnas Aral

Sunday, 26 May 2019

SEMPAK DIENGGO NANG NDAS



"Ckikikikikikikikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk......"

Disusul angin kencang dan kemrosak daun pisang jatuh. Sosok almarhum muncul dihadapanku dengan ngguyu ngecenya. Kalau sudah ngikik begitu, siapapun yang mendengar otomatis merasa dihina.

"Kenapa tertawa hum?"

"Lhaiya karena ada yang lucu to."

"Lhaiya yang lucu itu apa?"

"Yang lucu ya kalian ini? Celana dalam kok dipakai di kepala. Ckakakakak!"

Kali ini kubiar dia ngakak tanpa harus kutanyai, nanti juga dia menjelaskan apa maksudnya.

Akhirnya muncratnya tawa selesai dan berceritalah almarhum sebagaimana dulu ketika ia masih hidup.

"Kalian itu bebas ya bebas, terbuka ya terbuka, tapi mbok ya tahu fungsi, tahu letak, tahu esensi, tahu koridor, kalau sampai sempak dipakai di kepala dan kalau tidak sedang pentas ngabsurd itu kan lucu!"

"Sing nganggo sempak nang ndas kuwi sapa?!!"

"Ya kalian dalam mempergunakan dialog itu! Kalimat, ungkapan, kata-kata, yang fungsinya kedalam diri; memberitahu diri, manajemen diri, sekarang dipakai sebagai pakaian luar, dipakai buat nge-brand diri, label diri."

"Maksudmu i piye to hum, almarhum."

"Jik rung cetha? Kata ikhlas, itu omongna nang atimu, dialogkan dalam dirimu, pakai di dalam dirimu, gunakan ke dalam diri untuk suatu kondisi dimana harus kita hadapi  dengan teknologi ikhlas. Lha kok malah dilabelkan, digandul-gandulke, dibengok-bengokke; wahai dunia aku adalah orang ikhlas! Hai teman-teman, aku sedang ikhlas lho!. Ikhlas itu laku, bukan label! Ya ngono kuwi jenenge sempak dinggo nang ndas!"

"Lha terus kalau sudah begitu, akibatnya apa?"

"Ya jadi lucu!"

"Syukurlah kalau akibatnya cuma jadi lucu."

"Syukurlah gundulmu kuwi! Kalau orang-orang sudah tidak menganggap itu lucu, sudah menganggap itu tidak aneh? Lama-lama orang-orang akan kehilangan peta dialog?!"

"?????"

"Sesuatu yang salah kemudian diikuti banyak orang lama-lama jadi kaprah, lalu jika dibiarkan terus menerus akhirnya ia akan menjadi kelumrahan, puncaknya ia menjadi kebenaran. Saat itulah sebuah wasiat jadi mati esensinya, jadi kehilangan orientasi. Dan ia pun menjadi barang yang tak berfungsi alias sampah."

"Apa sudah separah itu, sampai almarhum pakai istilah kehilangan peta dialog segala.?"

"Kamu itu sama omongannya orang yang sudah mati kok tidak percaya! Itu lihat orang-orang yang pulang dari lomba itu. Kalau pulang bawa piala, captionnya; 'hasil tidak pernah mengkhianati proses!' Itu kalau lagi menang, kalau pas kalah captionnya, 'yang penting adalah prosesnya!' Ckikikikikikikikkkk!"

"Lhoh itu kan karena mereka ingin memberitahukan bahwa mereka sudah berusaha keras."

"Kenapa usaha keras harus ditunjuk-tunjukkan? Usaha keras itu dipraktekkan! Usaha keras, proses yang serius, latihan yang berat itu tempatnya di dapur! Barang mentah kok dihidangkan. Kalimat 'hasil tidak pernah mengkhianati proses' ucapkan pada dirimu yang sedang berproses agar dirimu meyakini bahwa proses yang baik akan menghasilkan kebaikan.

Kalimat 'yang penting adalah prosesnya' ucapkan pada dirimu agar fokus pada hal yang sedang kamu kerjakan, fokus pada kerja kerasmu, fokus pada usahamu. Itu resep dapur, itu bukan suguhan! Ini kalau aku lanjutkan soal peta dialog kalau saya lanjutkan bisa-bisa saya terpaksa hidup lagi!"

"Lhoh masih banyak to?"

"Ra umum! Saya tanya kamu, petuah 'anak muda harus menghormati orang tua itu cekelane cah enom atau wong tuwa?"

"Pegangannya orang tua!" kujawab mantap.

"Goblog! Ya pantes kalian njur gelut wae!"
"Lha piye to?"

"Pikir sendiri! Kalau diterus-teruskan nanti semu orang mati harus hidup lagi untuk menjelaskan warisannya. Ckikikikikikikikkkk......"

Angin kencang lagi, daun pisang jatuh lagi, almarhum kembali hilang meninggalkan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang membuat rindu pada masa lalu.

Catatan Gumam, 26 Mei 2019
Idnas Aral

Saturday, 25 May 2019

KECANDAK KOWE DADI! (Idnas Aral)


Bagi yang dulu pernah bermain playon. Tak asing dengan kalimat itu. Sebuah aturan sederhana, yang artinya, bagi pemain yang tersentuh oleh si pengejar maka ia berganti peran dengan si pengejar atau biasa disebut, sing dadi, artinya yang menjadi. Sekumpulan anak yang sedang bermain playon itu berlarian senang sembari ngece si 'dadi'.

Mereka senang menjadi bagian dari mayoritas dan akan berusaha keras untuk tidak 'kecandhak'. Sebaliknya si pengejar akan berusaha keras untuk nyandhak salah satu dari mayoritas untuk bertukar peran, untuk melepas tugas mengejar lalu ganti dikejar dan kemudia bergabung dengan kelompok mayoritas. Serunya permainan ini akan terus terjaga selama kelompok bermain tersebut, semuanya tidak ingin 'dadi', semua berusaha menghindari peran pengejar yang hanya satu-satunya, semua ingin menjadi mayoritas. Kalau mereka justru sukarela bahkan berebutan untuk kecandhak dan semua kepengen dadi, jadi tak seru lagi.

Anak-anak yang memang suka playon, ditampung oleh beberapa permainan tradisional yang biasanya berpola pertentangan dua peran pokok, yakni ‘yang-dadi dan tidak-dadi, yang mengejar dan dikejar, seorang vs banyak orang. Ini sekedar keseruan permainan yang tercipta oleh aturan main sederhana dan mudah dipahami. Tetapi situasi tersebut tidak akan tercipta jika tidak ada kecenderungan orang untuk memilih dan berusaha menjadi bagian dari mayoritas dan ketidaksudian menjadi satu-satunya atau minoritas.

Tetapi terkadang keasyikan permainan itu menjadi tragis dan kejam ketika terjadi ketidakseimbangan kekuatan. Yakni, ketika anak yang lemah itu dikungkum sak bubare atau terus menerus berperan sebagai seolah aib yang dijauhi kawan-kawan yang wegah nyedhak ndak kecandhak.

Posisi minoritas, sendirian, dihindari, ditambah dikeroyok dengan olokan, ingin nyandhak tak mampu, kalah fisik, psikologi terpojok, itulah kondisi seorang anak yang sedang dikungkum sak bubare. Situasi menyedihkan si minor itu, kalau tidak terempati oleh kawan-kawan sepermainannya, biasanya ia menangis dan bubar, atau tetap ngampet tetapi jadi trauma atau kapok bermain lagi.

Atau dan mungkin.
Biasanya muncul sosok pahlawan cilik dari salah satu mayoritas itu. Ia menangkap kesedihan, ketakberdayaan, ketertindasan keadaan anak yang dikungkum itu.

Ia mendengar jeritan minta tolong yang tak diucapkan itu.

Maka ia pun merelakan diri untuk kecandhak dan menggantikan peran, memikul tanggung jawab itu.

Ia berani, sebab ia tahu bahwa ia memiliki kemampuan yang telah ia takar, ketika  harus mengorbankan diri untuk 'dadi', ia sanggup melakoninya. Dan memang seperti itulah seorang pahlawan itu, selain berkepekaan tinggi, ia memiliki power lebih dari yang lain untuk memikul tanggungjawab, memiliki kemampuan dan skill untuk merubah keadaan. Ketika dua syarat itu termiliki, maka sore itu, lahirlah seorang pahlawan cilik dari sebuah permainan playon.

Anak seperti itu sepengalamku, selalu ada di setiap segerombolan geng dolanan. Heroisme tumbuh di dalam dirinya secara naluriah. Sebab itulah, secara tidak formal ia akan diangkat sebagai pemimpin oleh rombongan bermain kami tanpa harus menawar-nawarkan diri. Tanpa mencalonkan diri, ia terpilih sebagai panutan. Tanpa mengucapkan apapun, ia memikul tanggung jawab lebih tanpa perlu mengeluh.

Sebab, ia adalah seorang pahlawan maka ia menjadi pemimpin.

Jika pemimpin bukan seorang pahlawan maka ia tak mungkin sanggup memimpin, ia hanya memerintah atau justru menindas.
Pemimpin lahir dari jiwa kepahlawanan.
Pahlawan adalah kepekaan dan keempatian yang ditopang power untuk berbuat merubah keadaan.
Tanpa power pahlawan hanyalah konsep dan angan-angan.
Tanpa kepekaan dan keempatian, power hanya akan menjadi wenang yang sewenang-wenang.
Bibit pahlawan dan pemimpin akan selalu ada di setiap generasi anak-anak kita, tinggal bagaimana mekanisme "kecandhak" lalu "dadi" kita, akankah sampai pada pundak yang tepat.
Bismillah! Sahur-sahur!

Catatan Gumam, 26 Mei 2019
Idnas Aral

Tuesday, 2 October 2018

PEREMPUAN BERKALUNG SAMPUR VS OLEH-OLEH HEGEMONI BARAT


Adikku, perempuan berkalung sampur.

Tempo hari kamu pacu Scopy-mu dari Semarang untuk datang ke Solo, untuk menghadiri Tancap Layar di Sanggar Teater Tesa. Motormu sempat mogok di Ungaran, dan kamu sampai ke acara tetap tidak terlambat. Dan kau pun sampai untuk kita kembali berbincang-bincang.

Atas itu semua dan hal-hal yang sudah menjadi ikatan sejarah kita, ingin kumaknai hal-hal itu dengan tulisan ini.


Kita memang harus memaknai sendiri apa yang kita senangi dan yakini. Sebagaimana aku dengan teaterku dan kamu dengan tarimu. Mengharapkan penghargaan dari orang lain adalah bunuh diri yang tidak disadari. Selalu itu kusampaikan pada orang-orang satu kelompok denganku. Kita musti mempersiapkan diri untuk memasuki medan tempur berupa PERANG MAKNA.

Dalam satu rombongan kita, yang berlatih untuk mendapatkan pujian atas kemampuan aktingnya, akan musnah paling awal. Bagi yang hanya suka pentas, akan mampus dikoyak-koyak sepi. Bagi yang ketagihan UANG TRANSPORT, akan lumpuh paling dulu. Ya, seperti itulah, kebenaran kita. Dan kita pun selalu tahu bahwa kebenaran kita bukanlah satu-satunya. Di dalam hidup ini orang memiliki kebenarannya masing-masing. Kebenaran yang selama ini kita pakai sebagai benteng atas gempuran terhadap akal sehat, kalau bukan kita yang memaknai, siapa lagi?

Oleh karena hal-hal tersebut, tulisan ini mencoba ingin memaknai.

Di hadapanku, kau pun bercerita mengenai ketidaksetujuanmu kepada pendapat seorang penari kebanggaan negeri ini, yang seringkali mengharumkan nama Indonesia di kancah pertarian Internasional. Kau tidak setuju pada ceramahnya, waktu ia mengatakan bahwa tari tradisi adalah barang mati. Ditambah pula pendapatnya yang notabene terhegemoni oleh penari bule yang mengatakan padanya “bahwa ketika kamu menarikan tari tradisi Jawa, kamu seperti seorang perempuan.”

Lalu entah karena yang mengatakan itu seniman Bule atau karena mental penari kebanggan kita itu yang masih terjajah, serta merta ia meyakini “kebenaran” yang dikatakan teman bulenya. Kemudian ia pulang membawa oleh-oleh hegemoni tersebut, sebagai seorang penari yang “sukses” tentu suaranya didengar, diyakini oleh banyak orang. Dan kebenaran yang mengatakan, “bahwa tari tradisi pria Jawa geraknya seperti seorang banci” dia reproduksi sebagai kebenaran ingin ia tularkan.

Kepadamu juga, penari itu ingin menularkan kebenarannya melalui sebuah ceramah yang mendudukkanmu sebagai seorang murid yang lumrahnya akan selalu manthuk-manthuk.
Tetapi kau berani melawan kebenaran itu di dalam pikiranmu yang berkata, “bukankah di dalam tari tradisi lebih jelas perbedaannya antara perempuan dan laki-laki. Bahkan di dalam tari laki-laki ada pembagian antar alusan dan gagahan.”

Di dalam pikiranmu kamu berani memberontak, “bukankah justru tari Balet yang banya mengeksplorasi pantat itu terlihat lebih ber-perempuan ketimbang tari Jawa ketika diperankan oleh seorang pria.”

Meski kau tidak berdiri dan melisankan pendapatmu untuk mendebat seniormu yang internasional itu, meski kau tidak melakukan konfrontasi dengan meninggalkan ruangan. Setidaknya kau telah melawan di dalam pikiranmu. Dan di dalam pikiranmu, kebenaranmu sejajar dengan kebenaran penari itu yang notabene kebenaran kawan bulenya.

Atas semua itu, tulisan ini kuhaturkan untuk memaknainya.

Kau memang telah bertambah dewasa dibandingkan dengan 4 tahun silam, ketika kamu harus pulang latihan sebelum jam 9 malam. Cakrawalamu pun bertambah luas, pergaulanmu meluas, persinggungamu bertambah. Tak kusangka masih kau ingat tentang keyakinan kita untuk terus memaknai apa yang kita “miliki”.

Kau juga telah sudah mengerti bahwa pendapatmu akan sia-sia jika kau sampaikan pada kawanmu yang juga telah terhegemoni oleh pendapat seniornya yang sukses. Maka kau cukup diam dan melawan penjajahan itu di dalam dirimu. Keadaan memang sudah sedemikian seperti ini, dik, orang-orang berduyun-duyun mengejar matahari yang terbenam itu. Orang-orang takut terhadap malam yang sunyi tanpa riuh tepuk tangan dan penghargaan-penghargaan. Orang-orang takut tak berdiri di bawah lampu eksistensi.

Orang-orang terus lari ke barat dan lupa bahwasanya dari arah timurlah matahari akan terbit.

Atas semua itu, dengan tulisan ini aku ingin berpesan.

Sebagaimana tradisi yang sebenarnya juga terus tumbuh dan tidak mati seperti pendapat banyak orang. Kebenaran kita pun juga terus tumbuh. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Segala hal musti dinamis, tetapi penggiringan opini, penjejalan kebenaran, penyeragaman nilai-nilai, tetap harus terus dilawan. Setidak-tidaknya melawan di dalam diri sendiri.

Hal ini kusampaikan, sebab melihat kemampuanmu, perkembangan karirmu, dan caramu berdisiplin, bukan tidak mungkin kau akan sampai pada persinggungan kancah internasional. Dan saat sampai pada ketika itu, kau harus lebih siap untuk menghadapi pilihan, antara; menawarkan nilai-nilai kita atau justru sekedar kulakan dan terhegemoni oleh nilai-nilai dari luar.

Bersiaplah, selamat datang di dalam kancah Perang Makna!

Idnas Aral
Pasar Bubrah, 2 Oktober 2018

Thursday, 22 February 2018

WEDANGAN TEATER II MASIH BERLANGSUNG DI DALAM CATATAN


WEDANGAN TEATER II MASIH BERLANGSUNG DI DALAM CATATAN

Catatan 2 (seusai membaca tulisan Yudi Dodok dan Imamah)

Senang rasanya mendapati kesudian kedua orang tersebut menuliskan peristiwa wedangan kemarin. Tulisan mereka tidak mengada-ada, sebab keduanya hadir di peristiwa yang dituliskannya. Sebab rasa senang tersebut, saya baca beberapa kali lalu saya menulis catatan ini.

Begini.

Ketika saya menyebut kata Tuhan, itu bukanlah Tuhan, hanya sekedar persepsi saya mengenai Tuhan. Begitu pula ketika saya ketik di tulisan ini kata ‘kursi’, deretan huruf tersebut bukan lah kursi, hanya sekedar simbol yang kita sepakati untuk menunjuk sebuah benda yang sering difungsikan untuk tempat duduk. Maka ketika saya menyebut soal “realitas, identitas, Gigok Anurogo, Wedangan, dan Teater”, itupun tentu bukanlah “realitas, identitas, Gigok Anurogo, Wedangan, dan Teater” tetapi hanya persepsi saya mengenai hal-hal tersebut. Tetapi sebab kita musti berkomunikasi, persepsi-persepsi tersebut tidak bisa untuk tidak disampaikan untuk menunjuk pada hal yang sedang dibicarakan. Terlebih di dalam konteks Wedangan Teater yang salah satu titik tumpunya ialah komunikasi.

Adalah sebuah “ketidakmungkinan” untuk kita mampu untuk mengungkapkan suatu abstraksi sosial yang bernilai universal dan esensial. Tetapi pada saat yang sama kita takkan sanggup menghindarkan diri untuk memperkatakan persoalan tersebut. Untuk itulah ada dialog untuk menjembatani “ketidakmungkinan” itu. Sebab itu saya pun juga setuju kepada mas Dodok bahwa identitas tidak akan bersifat esensial dan universal.

Saya membuka dengan tulisan di atas tanpa pusing dan saya anggap sebagai cara saya berterimakasih terhadap kesudian bung dan nona menuliskan acara wedangan teater dan inilah dialog saya.

Rasanya masih berwedangan teater.

Saya tidak tahu apakah tulisan dari mas Dodok dan Imamah lahir setelah melalui persinggungan dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Yang jelas, tulisan saya kali ini lahir sebab kedua tulisan tersebut. Tulisan mas Dodok, adalah bagian dari dialog wedangan teater, meski telah berada di luar jam acara. Sebagaimana juga tulisan dari notulen acara, yakni Imamah, yang juga saya baca malam ini. Juga beberapa komentar panjang yang menanggapi tulisan saya (mas Popo, mas Pur, mas Bei, dll). Dialog-dialog tersebut saya dapati berwujud tulisan yang memiliki sifat yang membawa sebuah peristiwa di satu masa ke beberapa masa yang berbeda (sekarang dan esok). Itulah pemaknaan saya terhadap dialog-dialog di dalam catatan tersebut. Ini kali pertama saya merasakan situasi seperti ini di dalam konteks perteateran Surakarta.

Bukan berarti adalah klaim bahwa ini pertama kali.

Sudah pasti akan ada yang berkata “dulu itu sudah pernah”. Sebagaimana sekitar 3 tahun yang lalu pernah saya mengunjungi seorang penulis untuk menyampaikan harapan; agar kawan-kawan penulis sudi menjadikan teater sebagai salah satu wilayah tulisannya. Tetapi jawaban yang saya dapat; dulu itu sudah pernah. Maka saya pulang dan menyampaikan pada kelompok saya untuk membuat blog dan menuliskan sendiri catatan teaternya. Dan dalam kesempatan catatan ini, saya sampaikan, mari kita menuliskan catatan teater di sekitar kita.

Begitu juga, tentang wacana Wedangan Teater, tanggapan berupa “dulu sudah pernah” juga muncul. Bukan berarti menutup diri dengan sejarah, tetapi setahu saya, saat ini perlu dicari lagi formula dialog penjembatan untuk merayakan perbedaan-perbedaan persepsi mengenai teater secara terbuka dan sehat dengan artikulasi zaman ini. Dan pemaknaan terbuka dan sehat tersebut saya kembalikan kepada Wedangan Teater dan benak masing-masing untuk bebarengan mencarinya.

Salah satu usaha tersebut barangkali, melalui catatan.

Berangkat dari sifat wedangan teater yakni membuka kemungkinan. Maka salah satu kemungkinan tersebut yang ternyata lahir adalah catatan-catatan. Sebagaimana tulisan-tulisan dari orang-orang yang saya sebut di atas, maka kemungkinan yang mungkin bisa berlanjut adalah dimulainya dialog-dialog teater berupa catatan. Seperti halnya tulisan ini yang berdialog dengan tulisan mas Dodok. Saya rasa itupun masih merupakan wedangan teater yang telah lepas secara ruang dan waktu tetapi masih tetap konteks, dan berangkat dari hal yang sama.

Wedangan Teater dapat berupa dialog melalui catatan.

Jika tidak boleh dikatakan sebagai wadah dari catatan-catatan teater, setidaknya bisa kita ambil polanya saja. Yakni saling mencatat dan menanggapi peristiwa atau gagasan teater di wilayah Surakarta dalam bentuk tulisan. Jika hal tersebut dapat berlanjut dan tidak menutup kemungkinan untuk berkembang mengangkat tema lain. Sehingga pertukaran pikiran dan gagasan dapat terus berlangsung di luar sebuah acara tetapi tetap berada di dalam iklim teater Surakarta. Bermanfaat atau tidaknya biar mahkamah waktu yang memutuskan.

Demikian catatan kedua saya, adalah berupa tanggapan dan harapan. Meskipun nilainya teramat subjektif, tetap berani saya utarakan sebagai dukungan saya atas perayaan persepsi-persepsi yang berbeda. Dan kutulis dengan perasaan bahagia, sebagaimana kata pak Gigok kemarin yang mengajak kita belajar Teater dengan senang dan bahagia.

Mari bahagia bung!

Pasar Bubrah, 22 Feb. 18
Idnas Aral  

Thursday, 24 November 2016

Surat Terbuka untuk Kawan yang Wartawan (Idnas Aral)

"Kidung Balik Sangkan Paran" oleh Lawu Warta

Sebab kita sudah berkawan cukup lama dan sebab ini adalah surat terbuka, tentunya aku sisihkan perasaan ewuh pekewuh pergaulan. Tanpa keterbukaan tidak ada perkawanan dan tanda adanya surat ini tidak akan ada yang tercatat, dan peristiwa yang lewat, hanya akan menjadi sesuatu yang lewat, begitu saja.


Tempo waktu, ketika terlibat dalam suatu acara 40 hari Joko “Bibit” Santoso, telah kukirimi kau sebuah press rilis dan undangan untuk meliput. Pula telah kusebar ke media-media massa yang lain, konten acara kami, kebudayaan. Kami memang perlu perananan media massa untuk sebuah gerakan kebudayaan. Ada keyakinan para pencari berita akan datang pada acara itu.

Keyakinan itu bukan lantaran, aku memiliki kemampuan “lobiying” sebagaimana biasa digunakan para organisator event, tetapi sebab ini mengenai sosok yang tidak sembarangan, ini mengenai kualitas! realitas! intensitas! Serta lahir dia di Solo, besar dia di Solo, Berkarya dia di Solo.

Melalui Pesan dari WA, saya terima kabar begini:

jek// sori banget, nang ***** berita budaya rapayu.//......dadi ki tak omongi sik ben ora diarep-arep.

Aplikasi WhatsApp atau WA yang baru saja saya instal- sebab kebutuhan menghubungi para wartawan- itu yang berbicara padaku, jadi saya mengurungkan niat untuk membalasnya dengan: lha po koranmu kui restoran cepat saji ta bro kok urusan e gur payu opo ra payu. Aku urungkan sebab itu sebuah chatingan tidak ada frekuensi satu ruang, tidak ada nada suara, sangat terbatas dan penuh reduksi kemesraan. Akupun cukup membalas: Ok! Rapapa bro!

"Pertanyaanku pada Generasi Pecundang" oleh Reakses
Dan malam itu berjalan tanpa ada peliputan oleh media massa, sepengetahuanku. Jadi memang berita tentang kebudayaan itu memang tak laku, tentu mereka telah lebih tahu. Tetapi jikalau itu event dari pemkot yang berlabel kebudayaan tentulah pasti mereka liput. Lalu masyararakat luas yang membaca, “o even kebudayaan i yang megah seperti ini.” Dan masyarakat yang sebenarnya berpotensi untuk membuat pristiwa kebudayaannya sendiri menjadi minder untuk membuat peristiwa budayanya sendiri, sebab tidak ada dana besar sebagaimana even kota. Dan merekapun berduyun-duyun untuk selfie dan ber-hastag.

Sung Boga Raga Jiwa karya Eri Aryani

Itulah yang selalu dilawan Pak Bibit semasa hidupnya, ia membuat gerakan gerilya budaya, ialah untuk membangkitkan semangat berkesenian di kampung-kampung dalam kesederhanaan. Agar potensi-potensi, kekuatan-kekuatan kebudayaan yang memang secara esensial dimiliki masyarakat tidak hilang. Istilah Gerilya adalah istilah perang, secara kebudayaan kita memang sedang berperang atau lebih tepatnya diserang, dan sebelum kita berhenti menjadi konsumen dari kebudayaan luar yang masuk melalu televisi dll, perang belum selesai.

Kebudayaan memang bukan mengenai jualan, bukan tentang laku tidak laku, kebudayaan adalah mengenai daya tahan suatu bangsa, mengenai masa depan suatu bangsa, dan payu ora payu adalah mengenai barang dagangan.

Malam itu berjalan cukup khidmat, orang-orang dari berbagai lapisan, generasi, profesi, wilayah hadir, melibat sebagai satu kesatuan, dan memang itulah kebudayaan, itulah peristiwa kebudayaan, dari masyarakat untuk masyarakat, bukan bermula dari perincian anggaran dana untuk goal atau offside. Baru kali itu kutemui seniman tua-muda kumpul satu level: dalam segala artian, Bahkan kujumpai salah satu aktor kawakan dari Teater Sahita, Mbak Cempluk sempat membantu isah-isah. Sampai acara selesai dan ditutup dengan doa dari Eyang Lawu Warta yang membuat merinding bahkan menangis para yang hadir.

penampilan Teater Delik
Yang sudah memang berlalu sudah tapi jangan biarlah sudah, sebab bisa-bisa kita lupa sejarah. Dan surat terbuka ini kuakhiri tanpa penutupan, biar benar-benar terbuka tanpa penutup.


NB: Surat ini saya tulis kala telah turun tekanan darahku yang sempat meninggi dan demam tinggi yang sudi turun dan tentunya ditulis dengan rasa cinta yang teramat.
Ibu-ibu Teater Sangir
Jaga Malam oleh Zenit
Lurung Kala Bendhu oleh Teater Warung
Syukuran kelahiran sapi milik teater Ruang
Maju Tak Gentar oleh Sangir 'Anak-anak'