Showing posts with label jejaring sosial. Show all posts
Showing posts with label jejaring sosial. Show all posts

Saturday, 26 March 2016

Kita Bangun Jurang Jejaring Sosial (Mas Sinis)


Aku tak mengingkari kemajuan jaman, tak hendak pula kembali kejaman purba, dimana kita tak perlu mengejar karir dan prestasi agar sebagai manusia unggul kita diakui.

Dulu nenek moyang membangun jembatan agar mereka yang terpisah jurang dan sungai dapat berjumpa, bertanya kabar, duduk bersama dan bercerita.

Tapi kini kita ciptakan sendiri jurang yang menjadi jarak diantara kita, melewati jembatan jejaring sosial untuk berkomunikasi meski hanya terpisah dinding toilet.

Aneh, meski sadar atau tidak kita telah menjadi orang asing karena kemajuan jaman, tapi kita tetap menikmatinya karena kita adalah manusia moderen.

Aku terima saja daripada dianggap manusia gila bila memprotes peradaban baru dan tak mengikuti, walau kita menjadi malas bertemu karena lebih nyaman menggenggam tekhnologi tanpa kaki melangkah dan untuk menyapa atau kelak berkata "aku mencintaimu" harus lewat dunia maya, sejenak meninggalkan dunia nyata, padahal lidahku masih dapat mengucap kata dan kaki masih sanggup berjalan menghampirimu.

15 September 2013 pukul 21:42

Monday, 21 March 2016

Citra Bahagia dalam Facebook

Dari Facebook, saya melihat teman-temanku bahagia. Bertebaran foto-foto kebahagian, status-status kemesraan, cerita-cerita perjalanan tamasya, kisah-kisah keberhasilan mereka, dan segala sesuatu yang menandakan betapa indah hidup mereka.
Foto Anak Kos yang kurang bahagia
Dari Facebook, saya menjadi mengerti ternyata hanya saya yang tidak bahagia, sedang teman-temanku bahagia. Hanya saya yang tidak sukses sedang teman-temanku sukses.
Dari Facebook, saya menjadi mempertanyakan pandangan mengenai kehidupan yang dipeuhi dengan ketidakadilan dan kesengsaraan.
Dari Facebook, citra-citra kebahagiaan yang ditebarkan oleh teman-teman saya telah membuat saya terpojok, bahwasanya cara hidup yang telah saya pilih adalah salah. Kesepian dan perenungan adalah ketidakwajaran yang musti saya tinggalkan.
Dari Facebook, saya berpikir apakah kebahagian teman-teman saya ialah sekedar pencitraan atau memang benar bahwasanya mereka bahagia.
Dan haruskah saya turut serta berkata: Aku bahagia! Aku bahagia! Kehidupan ini indah dan baik-baik saja! Biar hujan bom, panen kematian, musim penggusuran, biar, biar, toh saya tetap bahagia. Saya Bahagiaaaaaaaaaa!!!!!!!!!
Tetapi kemudian seorang Anam berkata pada saya, “apa yang anda pikirkan itu berbeda dengan apa yang anda rasakan mas.”

21 Maret 2016