Sunday, 20 March 2016

Dengan Teater Keliling Dunia

Profil Helmi Prasetyo
wawancara: 8 September 2015
Melihat penampilannya yang amat sederhana, kita tidak akan menyangka bahwa ternyata keaktorannya telah mewarnai dunia teater dan tari internasional.
Pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesenian tanah air sangatlah kurang. Hal tersebut akibat media masa televisi yang menjadi rujukan pokok masyarakat mengenai kesenian hanya menyuguhkan seni hiburan (entertaiment). Terbukti tidak banyak orang yang tahu bahwa ternyata di Solo ada seorang aktor teater internasional yang bernama Helmi Prasetyo.
Pria kelahiran Surakarta, 1 Januari 1970 tersebut mengenal dunia teater dari almarhum ayahnya, A Isda Soepoyo yang juga seorang aktor teater segenerasi dengan Arifin C. Noer. A Isda Soepoyo adalah salah satu aktor yang pernah dipujii keaktorannya oleh WS Rendra dalam catatannya mengenai sebuah pementasan di Solo. Dari beliaulah Helmi lahir sebagai anak dan sebagai aktor teater.
Kesenian harus disikapi dengan serius adalah kesan yang ia tangkap dari ayahnya. Setiap hari sepulang kerja mengajar sebagi guru, ayahnya berangkat ke Jogja untuk berlatih teater dan pulang ke solo pagi hari untuk kembali mengajar. Keseriusan dan intensitas tersebut yang akhirnya membawa perjalanan teaternya berlabuh ke Teater Ruang sebagai salah satu pendirinya.
Sebelum akhirnya aktif total di Teater Ruang, Helmi sempat berproses di berbagai teater, antara lainnya Teater Petra, Teater HBS, dan merupakan salah satu pendiri Teater Jejak (ISI Surakarta).
Disiplin, intensitas, dan loyalitas adalah nada dasar dalam berproses di teater ruang. Dari hal tersebut akhirnya ia menemukan sebuah hasil ekplorasi gerak yang menurut Martinus Miroto (dosen ISI Jogja) merupakan gerak khas yang hanya dimiliki oleh Helmi.
“Nha proses yang terus itu, ekplorasi tubuh yang intens itu ternyata baik untuk kesehatan dan akhirnya saya menemukan gerak kera yang sekarang saya gunakan untuk keliling dunia.”
Gerak kera yang ia ungkapkan tersebut juga sempat mewarnai dunia film tanah air, yaitu dalam film Generasi Biru yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Gerak tersebut ia dapatkan ketika melakukan ekplorasi gerak selama 7 bulan dan hasil ekplorasi tersebut kemudian dipentaskan dengan naskah “Z” karya dan sutradara Joko Bibit Santoso.
Justru dunia kesenian internasional yang lebih mampu menangkap potensi besarnya. Lemmi Ponifasio, sutradara dan pimpinan Mou Theatre, New Zealand yang mampu menangkap potensinya ketika melihat Helmi ketika gladi bersih di Swiss. Peristiwa itu adalah ketika bersama Garin Nugroho ia akan mementaskan Iron Bat dalam Festival internasional tahun 2008.
 “Sejak saat itu, seringnya satu tahun beberapa kali diajak Lemmi berpentas. Aku nggumune kok malah Lemi sing iso nompo, kalau Garin dulu kan karena kenal Mas Bibit.” tambahnya
Bersama Mou Theatre, Helmi telah mementaskan berbagai repertoar, antara lain Tempest, Le Savally, I Am, Apocalypses. Berlanjut hingga tahun 2015 ini yaitu pada bulan Januari di Chile, New Zealand Juni di Canada, dan rencananya tahun ini juga dia akan kembali berpentas di Polandia.
Pengalamannya berpentas di luar negeri membuatnya dapat melihat bahwa permasalahan kesenian di Indonesia adalah karena tidak sejajarnya bidang kesenian dengan bidang yang lain.
 “Kalau negara-negara maju rasanya bidang kesenian itu tidak ngisor banget.” ungkapnya
Menurutnya, negara-negara maju yang dia lihat telah mensejajarkan kesenian dengan bidang-bidang yang lain.
“Kesenian, pendidikan, dan sebagainya, kita kalah dari negara lain adalah karena kebudayaan kita kalah.” tambahnya.
Di negara-negara maju negara menghargai setiap orang yang memiliki keahlian profesional termasuk kesenian, sedang di Indonesia penghargaan masih berorientasi pada ijazah formal. Hal itu terlihat bagaimana Lemmi Ponifasio dapat membawa aktornya yang berstatus tahanan rumah berpentas di luar negeri. Di negeri ini hal tersebut mungkin hanya bisa dilakukan oleh para elit politik. 



No comments:

Post a Comment