Profil Helmi Prasetyo
wawancara: 8 September 2015
Pengetahuan
masyarakat mengenai dunia kesenian tanah air sangatlah kurang. Hal tersebut
akibat media masa televisi yang menjadi rujukan pokok masyarakat mengenai
kesenian hanya menyuguhkan seni hiburan (entertaiment).
Terbukti tidak banyak orang yang tahu bahwa ternyata di Solo ada seorang
aktor teater internasional yang bernama Helmi Prasetyo.
Pria
kelahiran Surakarta, 1 Januari 1970 tersebut mengenal dunia teater dari
almarhum ayahnya, A Isda Soepoyo yang juga seorang aktor teater segenerasi
dengan Arifin C. Noer. A Isda Soepoyo adalah salah satu aktor yang pernah dipujii
keaktorannya oleh WS Rendra dalam catatannya mengenai sebuah pementasan di
Solo. Dari beliaulah Helmi lahir sebagai anak dan sebagai aktor teater.
Kesenian
harus disikapi dengan serius adalah kesan yang ia tangkap dari ayahnya. Setiap
hari sepulang kerja mengajar sebagi guru, ayahnya berangkat ke Jogja untuk
berlatih teater dan pulang ke solo pagi hari untuk kembali mengajar. Keseriusan
dan intensitas tersebut yang akhirnya membawa perjalanan teaternya berlabuh ke
Teater Ruang sebagai salah satu pendirinya.
Sebelum
akhirnya aktif total di Teater Ruang, Helmi sempat berproses di berbagai
teater, antara lainnya Teater Petra, Teater HBS, dan merupakan salah satu
pendiri Teater Jejak (ISI Surakarta).
Disiplin,
intensitas, dan loyalitas adalah nada dasar dalam berproses di teater ruang.
Dari hal tersebut akhirnya ia menemukan sebuah hasil ekplorasi gerak yang
menurut Martinus Miroto (dosen ISI Jogja) merupakan gerak khas yang hanya
dimiliki oleh Helmi.
“Nha
proses yang terus itu, ekplorasi tubuh yang intens itu ternyata baik untuk
kesehatan dan akhirnya saya menemukan gerak kera yang sekarang saya gunakan
untuk keliling dunia.”
Gerak
kera yang ia ungkapkan tersebut juga sempat mewarnai dunia film tanah air,
yaitu dalam film Generasi Biru yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Gerak
tersebut ia dapatkan ketika melakukan ekplorasi gerak selama 7 bulan dan hasil
ekplorasi tersebut kemudian dipentaskan dengan naskah “Z” karya dan sutradara
Joko Bibit Santoso.
“Sejak saat itu, seringnya satu tahun beberapa
kali diajak Lemmi berpentas. Aku nggumune
kok malah Lemi sing iso nompo,
kalau Garin dulu kan karena kenal Mas Bibit.” tambahnya
Bersama
Mou Theatre, Helmi telah mementaskan berbagai repertoar, antara lain Tempest, Le Savally, I Am, Apocalypses. Berlanjut
hingga tahun 2015 ini yaitu pada bulan Januari di Chile, New Zealand Juni di
Canada, dan rencananya tahun ini juga dia akan kembali berpentas di Polandia.
“Kalau negara-negara maju rasanya bidang
kesenian itu tidak ngisor banget.”
ungkapnya
Menurutnya,
negara-negara maju yang dia lihat telah mensejajarkan kesenian dengan
bidang-bidang yang lain.
“Kesenian,
pendidikan, dan sebagainya, kita kalah dari negara lain adalah karena
kebudayaan kita kalah.” tambahnya.
Di
negara-negara maju negara menghargai setiap orang yang memiliki keahlian
profesional termasuk kesenian, sedang di Indonesia penghargaan masih
berorientasi pada ijazah formal. Hal itu terlihat bagaimana Lemmi Ponifasio
dapat membawa aktornya yang berstatus tahanan rumah berpentas di luar negeri.
Di negeri ini hal tersebut mungkin hanya bisa dilakukan oleh para elit politik.
No comments:
Post a Comment