Maka,
meski dengan sedikit gugup, kami terus percaya bahwa Tuhan selalu bermaksut baik
dalam tiap-tiap peristiwa yang terjadi. Sembari menunggu para pemain siap
dengan dandannya Mas Bei duduk di tengah jalan, menatap langit dan merasakan
hujan, “menantang hujan” katanya, tapi bukan menantang dalam arti adalah
berani, melainkan adalah cara meminta dengan metode lain, cara menundukan diri
dengan maksut yang sama, meminta kemurahan Tuhan, bahwa memang kalau hujan
harus turun, biarlah turun, kalau memang harus deras ya deras saja, kami tak
ingin mendikte Tuhan barang sedikitpun. Tapi yang kami minta adalah, kebahagiaan,
keceriaan, manfaat, yang semoga melingkupi pentas yang akan dan harus terjadi
pada malam itu, karena kami telah menyanggupi akan berpentas pada malam itu,
jadi toh kami yakin Tuhan tidak akan mengecewakan penonton pada malam itu,
meski harus turun hujan dan bahkan badai. Kami percaya, bahwa di balik maksut
baik akan terjadi hal baik.
Dan
terpaksa hujan harus reda, tinggal sisa basah di jalan, tentunya bukan karena
Mas Bei, tapi Tuhan ingin berhenti, ya berhenti. Yang dipahami Mas Bei sebagai,
bahwa memang harus turun hujan, agar hawa kembali segar, agar jalan tidak penuh
dengan debu, agar kalau-kalau ada angin yang cukup besar, penonton tidak kelilipen matanya oleh debu jalanan,
agar tidak sumuk. Begitulah Mas Bei memaknai
turunya hujan, sebagai berkah untuk pementasan kami pada malam itu.
sekaligus pembawa acara, mulai memperkenalkan satu persatu para yang terlibat dalam pementasan tersebut, dan syukur, para tukan foto dan video pun tidak lupa diperkenalkan. Dengan iming-iming pembagian stiker para anak kecil pun diundang maju ke depan, ditanyai mulai dari siapa para pamain yang baru saja berkenalan, siapa kami, apa judul naskah yang kami mainkan, dan syukur, kalau banyak dari mereka yang tidak ingat, lupa, salah dan ngawur, tetap dibagi stiker, karena salah adalah jalan menuju benar, dan ngawur adalah awal dari keberanian untuk merdeka, tapi setidaknya para bocah itu tau kalau salah, besok siapa tau benar, toh benar salah juga setipis rambut dibagi tujuh. Yang terpenting mereka sudah berani, dan mereka tidak ngamuk kalau dipersalahkan, itu sudah lumayan. Dan tanpa kami sangka, yang tidak berani maju ke panggung, yang malu, yang tidak punya kesempatan, setelah selesai mereka berebut stiker yang kami bawa, kami kaget dan bahagia, kami gembira, kalau di-rupiahkan tidak seberapa, tapi antusiasme meraka benar -benar tak kami sangka, sampai pada akhirnya ada seorang anak yang paling malu, diantar Ibunya mendatangi salah satu dari kami, anaknya kepingin stiker dan belum dapat, ah betapa bodohnya kami, betapa malunya kami, bahwa stiker itu habis, betapa pandirnya kami yang menyangka bahwa stiker itu tidak akan selaris pada malam itu. Anak itu lumayan kecewa, dan kami sangat kecewa, karena tidak dapat memenuhi permintaan yang begitu sederhana, beberapa lembar stiker.
Begitulah
malam itu, mesra, permulaan baru lagi, kemungkinan baru lagi. Semoga kami masih
terus memiliki kesempatan untuk membenahi apa yang kami rasa kurang dalam
setiap pementasan. Semoga, kami hanya mampu semoga, dan kalian para pembacalah
yang akan menjadikan nyata atas semoga ini.
Terimakasih
telah membaca sampai akhir !!



